![]() |
| Kujang |
Saat
kita mendengar kata ‘Kujang’, maka pikiran kita akan mengarah pada sebuah
senjata khas masyarakat Jawa Barat. Bentuknya yang unik dan berbeda dengan
senjata khas daerah lain menjadi suatu daya tarik tersendiri dari senjata ini. Belati
yang bentuknya menggambarkan pulau Jawa ini merupakan salah satu bukti sejarah
dari Kerajaan Pajajaran yang berlokasi di daerah Jawa Barat. Sehingga selain
bernilai seni tinggi, Kujang juga memiliki nilai sejarah yang tinggi. Kujang
diperkirakan telah dibuat sejak sekitar abad ke-4 sebagai alat kebutuhan
pertanian. Dan sejak saat itu juga masyarakat Jawa Barat telah mengenal dan
mengaplikasikan prinsip-prinsip dari proses Metal
Forming (Pembentukan Logam), salah satu bagian dari ilmu tentang Logam
(Metalurgi).
Ilmu
Metalurgi merupakan ilmu yang sangat tua dan telah dipelajari oleh manusia
sejak zaman logam, perkembangan dari zaman batu. Pada zaman dahulu, manusia
menemukan suatu bahan yang lebih kuat dari batu dan mereka menggunakan bahan
tersebut menggantikan batu yang berfungsi sebagai alat untuk berburu. Karena
logam memiliki sifat dapat dibentuk sesuai dengan kebutuhan, maka pada zaman
dahulu logam juga dibentuk menjadi senjata sebagai alat pertahanan diri dari
binatang buas. Seiring berkembangnya zaman, logam pun dipergunakan untuk
berperang melawan kelompok lain guna mempertahankan wilayah atau memperluas
daerah kekuasaan. Hal ini terbukti dengan adanya penemuan-penemuan benda
bersejarah berbentuk senjata yang terbuat dari logam. Termasuk salah satunya
adalah Kujang yang diperkirakan telah ada sejak abad ke-4.
Pada
awalnya Kujang digunakan masyarakat Sunda sebagai peralatan pertanian. Bukti
yang memperkuat pernyataan bahwa kujang sebagai peralatan berladang masih dapat
kita saksikan hingga saat ini pada masyarakat Baduy di daerah Banten yang masih
menggunakan Kujang sebagai peralatan pertanian. Dengan perkembangan kemajuan,
teknologi, budaya, sosial dan ekonomi masyarakat Sunda, Kujang pun mengalami
perkembangan dan pergeseran bentuk, fungsi dan makna. Dari sebuah peralatan
pertanian, kujang berkembang menjadi sebuah benda yang memiliki karakter
tersendiri dan cenderung menjadi senjata yang bernilai simbolik dan sakral.
Wujud baru kujang tersebut seperti yang kita kenal saat ini diperkirakan lahir
antara abad 9 sampai abad 12.
Pada
zaman kerajaan Pajajaran, seiringan dengan perkembangan aspek sosial, ekonomi,
serta budaya masyarakat, Kujang pun mengalami evolusi dan telah memiliki
berbagai bentuk. Kujang hanya dimiliki oleh kelompok tertentu dan bentuk dari
Kujang tersebut menjelaskan status kesejajaran jabatan dari kelompok tersebut.
Kujang dimiliki dari mulai seorang raja sampai dengan seorang Kokolot atau orang yang dituakan atau
berpengaruh di daerahnya. Namun selain para pejabat, beberapa petani pun masih
ada yang menggunakan Kujang sebagai alat pertanian.
Karena
Kujang merupakan benda pusaka yang dianggap istimewa, maka proses pembuatannya
pun tidak sembarangan. Orang yang dapat membuat Kujang disebut ‘Guru Teupa’.
Guru Teupa akan memilih waktu khusus untuk membuat Kujang, yaitu saat munculnya
‘Bintang Kerti’. Yaitu pada saat Bintang Kerti ada pada posisi sejajar di atas
kepala menyamping agak ke Utara waktu subuh. Hal ini menandakan saatnya memulai
pengerjaan proses penempaan benda-benda tajam dari logam (besi-baja). Patokan
waktu seperti ini, masih berlaku hingga saat ini di lingkungan masyarakat
“Urang Kanékés” (Baduy).
Menurut
sumber yang tertulis dalam kitab-kitab yang menceritakan sejarah kehidupan
masyarakat Sunda, disebutkan bahwa bahan yang digunakan untuk membuat Kujang
beserta pelengkapnya adalah berbagai jenis logam. Besi, besi kuning (tembaga),
baja, perak, ataupun emas merupakan bahan logam yang biasa digunakan untuk
membuat waruga (badan Kujang). Ada
juga bahan yang digunakan untuk membuat pamor
(ukiran yang terdapat pada Kujang, berbahan dasar logam) adalah baja, tembaga,
dan paduan antara besi dan nikel. Jika dikaitkan dengan bidang Metalurgi, logam
besi ataupun baja memang sering digunakan sebagai bahan dasar pembuatan
senjata. Selain memberikan kekuatan, besi serta baja juga dapat dibentuk sesuai
kebutuhan. Dan berdasarkan pengetahuan yang ada saat ini, dijelaskan bahwa logam
Nikel yang digunakan sebagai unsur paduan pada baja akan memberikan sifat
tangguh yang lebih baik pada logam tersebut. Konsep metalurgi seperti ini
ternyata telah diterapkan oleh masyarakat pada zaman dulu dalam membuat
senjata, walaupun dengan teknologi yang terbatas.
Selain
prinsip paduan logam, teknik yang digunakan untuk membuat Kujang juga berkaitan
dengan aspek metalurgi. Pada zaman dahulu Kujang dibuat dengan teknik penempaan
atau biasa disebut forging dalam
bahasa ilmiah. Forging atau penempaan
adalah proses pembentukan logam tertua. Sejak jaman prasejarah manusia telah
menemukan bahwa besi dapat dipanaskan dan dipukul dengan batu menjadi peralatan
berguna. Proses ini juga yang diterapkan dalam membuat Kujang. Berawal dari
besi atau baja paduan yang berbentuk balok dengan ketebalan tertentu. Kemudian
logam tersebut dimasukkan ke dalam tungku pemanas hingga berwarna merah
menyala, yaitu sekitar suhu 700-800°C. Pada suhu tersebut besi atau baja paduan
akan memasuki fasa kristalisasi. Setelah itu barulah logam panas tersebut
ditempa dengan cara dipukul-pukul menggunakan palu oleh beberapa Guru Teupa.
Dalam ilmu metalurgi, teknik ini biasa dikenal dengan nama Hot Working atau pengerjaan panas. Proses pengerjaan panas ini akan
memberikan keuntungan-keuntungan terhadap logam yang dibuat. Selain gaya yang
diberikan lebih kecil jika dibandingkan dengan pengerjaan pada suhu rendah,
operasi panas juga akan meningkatkan kekuatan dan ketangguhan dari logam
dikarenakan perubahan struktur kristal logam tersebut.
Pada
masa kini, Kujang juga digunakan sebagai lambang dari lembaga-lembaga
pemerintahan di Jawa Barat. Hal ini membuktikan bahwa karisma Kujang masih
sangat kuat di kalangan masyarakat Sunda. Tidak hanya memberikan pembelajaran
tentang sejarah masyarakat Sunda pada jaman dahulu, Kujang juga memberikan
gambaran tentang bagaimana proses serta teknik yang digunakan dalam pembuatan
sebuah senjata. Ketika kita menjaga kewibawaan Kujang, tidak hanya melestarikan
budaya, namun kita juga mewarisi ilmu tentang pembentukan logam yang telah
diketahui oleh masyarakat Sunda sejak jaman dahulu.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar