Mungkin
masih hangat diingatan kita tentang kisah Ibu Irah. Seorang Ibu yang dulu
sering terlihat di pintu masuk area parkir Seni Rupa ITB. Terlihat pula
beberapa tas besar di sampingnya yang disinyalir merupakan barang-barang
pribadi miliknya, seperti pakaian dan barang lainnya. Di pagi hari, siang,
maupun malam hari, beliau selalu terlihat di tempat yang sama sedang
menggendong atau mengasuh kucing. Namun
sekarang Ibu Irah sudah tak terlihat lagi di tempat biasa beliau berdiam.
Sempat terdengar bahwa Ibu Irah telah
meninggal. Namun isu tersebut tidak benar. Ternyata beliau sedang mengalami
perawatan medis di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Setelah pada sekitar
bulan Januari 2013 lalu Ibu Irah dikabarkan terjatuh saat sedang menyapu di
sekitar mesjid Salman. Pada hari itu pula, Anjar Dimara Sakti (Presiden KM ITB
2012-2013) dibantu beberapa rekan yang lain membantu beliau. Ibu Irah diantar
menggunakan mobil Ambulance Salman ke
RSHS. Berdasarkan pemeriksaan medis, diduga Ibu Irah mengidap penyakit Bronchitis dan gangguan pencernaan
setelah beberapa hari beliau tidak buang air besar.
Tunawisma yang diperkirakan
berumur 85 tahun ini berasal dari Cilacap. Beliau sudah dua kali keluar dari
panti jompo yang menaunginya. Namun beliau tidak dapat menjawab ketika ditanya
mengenai panti jompo yang menaunginya dulu. Setiap kali melewati pintu masuk
area parkir SR, Ibu Irah selalu terlihat bersama beberapa ekor kucing yang
senantiasa setia menemaninya. Terkadang pula beliau terlihat sedang makan. Dan
luar biasanya, beliau selalu menyisihkan makanannya untuk kucing-kucing yang
menemaninya itu. Walaupun mungkin beliau sangat jarang untuk makan besar
seperti itu.
Sudah sekitar beberapa bulan
Ibu Irah tinggal di tempat duduk dekat pintu masuk parkiran SR tersebut. Beliau
tinggal disitu untuk makan, tidur, atau sekedar berteduh dari derasnya air
hujan. Dan jika ditinjau kembali, tempat tersebut sangatlah tidak layak untuk
ditempati. Tempat itu hanya akan melindungi orang yang ada di bawahnya dari
guyuran air hujan. Namun tidak bisa melindungi dari dinginnya malam. Terlebih
cuaca Bandung yang sangat dingin pada malam hari.
Mungkin hal
itulah yang menyebabkan Ibu Irah mengidap penyakit Bronchitis. Setiap malam tidur di tempat terbuka dan hanya
diselimuti sweater yang menempel di
tubuhnya itu. Tak terbayang darimana beliau mendapatkan makanan untuk
kebutuhannya sehari-hari. Namun yang membuat beliau terlihat sangat luar biasa
adalah sikapnya yang sabar dan pekerja keras. Tak pernah beliau menengadahkan
tangan untuk meminta-minta kepada orang yang melintas. Beliau lebih memilih
untuk mencuci piring dan menyapu di sekitar mesjid Salman untuk mendapatkan
uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.
Keadaan
yang memprihatinkan itu tidak membuat Ibu Irah putus asa. Dengan tubuhnya yang
sudah senja tersebut beliau tetap berjuang demi mencari uang untuk sesuap nasi.
Namun akhirnya tubuhnya pulalah yang menjawab. Keadaan tubuh beliau yang sudah
tua dan tidak kuat untuk bekerja terlalu keras itu akhirnya tumbang saat beliau
sedang menyapu di sekitar mesjid Salman. Ibu Irah dikabarkan terjatuh saat
sedang menyapu yang mengakibatkan kakinya terluka dan tidak kuat untuk menopang
berat tubuhnya. Dan akhirnya pada hari itu beliau dibantu beberapa orang untuk
diantar ke RSHS untuk menjalani perawatan medis.
Setekah hari itu, gerakan
Kampus Peduli dan Kementerian Pengmas KM ITB langsung mengadakan upaya
penggalangan dana untuk membiayai perawatan Ibu Irah di RSHS. Tanpa disangka,
ternyata banyak sekali pihak yang prihatin kepada Ibu Irah dan senantiasa
membantu beliau. Salah satunya adalah salah seorang dokter yang bertugas di
RSHS yang bersedia menanggung seluruh biaya rumah sakit dari Ibu Irah. Namun
tidak sampai disitu saja, Ibu Irah juga memerlukan biaya untuk pengobatan. Dan hal
yang harus dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana nasib Ibu Irah setelah
beliau sehat dan keluar dari rumah sakit. Di mana beliau akan tinggal dan siapa
yang akan merawat beliau masih menjadi permasalahan. Dan hingga hari ini
Kementerian Pengmas KM ITB masih terus menggalang dana untuk membiayai
kebutuhan pengobatan Ibu Irah. Selain itu juga, sedang diupayakan untuk mencari
panti jompo yang nantinya akan merawat Ibu Irah.
Banyak cerita dari mahasiswa
ITB tentang sosok sederhana itu. Pernah ada yang menawarkan donat kepada
beliau, namun beliau menolaknya dengan alasan takut sang pemberi donat tersebut
merugi karena donat tersebut adalah donat untuk dijual. Namun setelah dipaksa
dan diberikan pengertian, akhinya Ibu Irah mau untuk menerima pemberiannya itu.
Dan masih banyak lagi cerita dari beberapa mahasiswa ITB yang lain. Memang
banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran bagi sekitarnya. Terutama hikmah
tentang peduli kepada sesama. Namun sebelum kita memperhatikan sesam,
seyogyanya kita memperhatikan orang terdekat kita terlebih dahulu, yaitu
keluarga kita sendiri. Jangan sampai hal yang memprihatinkan seperti yang
dialami Ibu Irah ini menimpa orang tua kita sendiri. Atau bahkan mungkin kita
sendiri yang akan mengalami hal tersebut karena kurangnya kepedulian kita
kepada keluarga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar