6 Maret 2013

Ibu Irah yang Tak Terlihat lagi di ITB

Mungkin masih hangat diingatan kita tentang kisah Ibu Irah. Seorang Ibu yang dulu sering terlihat di pintu masuk area parkir Seni Rupa ITB. Terlihat pula beberapa tas besar di sampingnya yang disinyalir merupakan barang-barang pribadi miliknya, seperti pakaian dan barang lainnya. Di pagi hari, siang, maupun malam hari, beliau selalu terlihat di tempat yang sama sedang menggendong atau mengasuh  kucing. Namun sekarang Ibu Irah sudah tak terlihat lagi di tempat biasa beliau berdiam.


Sempat terdengar bahwa Ibu Irah telah meninggal. Namun isu tersebut tidak benar. Ternyata beliau sedang mengalami perawatan medis di Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung. Setelah pada sekitar bulan Januari 2013 lalu Ibu Irah dikabarkan terjatuh saat sedang menyapu di sekitar mesjid Salman. Pada hari itu pula, Anjar Dimara Sakti (Presiden KM ITB 2012-2013) dibantu beberapa rekan yang lain membantu beliau. Ibu Irah diantar menggunakan mobil Ambulance Salman ke RSHS. Berdasarkan pemeriksaan medis, diduga Ibu Irah mengidap penyakit Bronchitis dan gangguan pencernaan setelah beberapa hari beliau tidak buang air besar.


Tunawisma yang diperkirakan berumur 85 tahun ini berasal dari Cilacap. Beliau sudah dua kali keluar dari panti jompo yang menaunginya. Namun beliau tidak dapat menjawab ketika ditanya mengenai panti jompo yang menaunginya dulu. Setiap kali melewati pintu masuk area parkir SR, Ibu Irah selalu terlihat bersama beberapa ekor kucing yang senantiasa setia menemaninya. Terkadang pula beliau terlihat sedang makan. Dan luar biasanya, beliau selalu menyisihkan makanannya untuk kucing-kucing yang menemaninya itu. Walaupun mungkin beliau sangat jarang untuk makan besar seperti itu.

Sudah sekitar beberapa bulan Ibu Irah tinggal di tempat duduk dekat pintu masuk parkiran SR tersebut. Beliau tinggal disitu untuk makan, tidur, atau sekedar berteduh dari derasnya air hujan. Dan jika ditinjau kembali, tempat tersebut sangatlah tidak layak untuk ditempati. Tempat itu hanya akan melindungi orang yang ada di bawahnya dari guyuran air hujan. Namun tidak bisa melindungi dari dinginnya malam. Terlebih cuaca Bandung yang sangat dingin pada malam hari.

Mungkin hal itulah yang menyebabkan Ibu Irah mengidap penyakit Bronchitis. Setiap malam tidur di tempat terbuka dan hanya diselimuti sweater yang menempel di tubuhnya itu. Tak terbayang darimana beliau mendapatkan makanan untuk kebutuhannya sehari-hari. Namun yang membuat beliau terlihat sangat luar biasa adalah sikapnya yang sabar dan pekerja keras. Tak pernah beliau menengadahkan tangan untuk meminta-minta kepada orang yang melintas. Beliau lebih memilih untuk mencuci piring dan menyapu di sekitar mesjid Salman untuk mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya.

Keadaan yang memprihatinkan itu tidak membuat Ibu Irah putus asa. Dengan tubuhnya yang sudah senja tersebut beliau tetap berjuang demi mencari uang untuk sesuap nasi. Namun akhirnya tubuhnya pulalah yang menjawab. Keadaan tubuh beliau yang sudah tua dan tidak kuat untuk bekerja terlalu keras itu akhirnya tumbang saat beliau sedang menyapu di sekitar mesjid Salman. Ibu Irah dikabarkan terjatuh saat sedang menyapu yang mengakibatkan kakinya terluka dan tidak kuat untuk menopang berat tubuhnya. Dan akhirnya pada hari itu beliau dibantu beberapa orang untuk diantar ke RSHS untuk menjalani perawatan medis.

Setekah hari itu, gerakan Kampus Peduli dan Kementerian Pengmas KM ITB langsung mengadakan upaya penggalangan dana untuk membiayai perawatan Ibu Irah di RSHS. Tanpa disangka, ternyata banyak sekali pihak yang prihatin kepada Ibu Irah dan senantiasa membantu beliau. Salah satunya adalah salah seorang dokter yang bertugas di RSHS yang bersedia menanggung seluruh biaya rumah sakit dari Ibu Irah. Namun tidak sampai disitu saja, Ibu Irah juga memerlukan biaya untuk pengobatan. Dan hal yang harus dipikirkan selanjutnya adalah bagaimana nasib Ibu Irah setelah beliau sehat dan keluar dari rumah sakit. Di mana beliau akan tinggal dan siapa yang akan merawat beliau masih menjadi permasalahan. Dan hingga hari ini Kementerian Pengmas KM ITB masih terus menggalang dana untuk membiayai kebutuhan pengobatan Ibu Irah. Selain itu juga, sedang diupayakan untuk mencari panti jompo yang nantinya akan merawat Ibu Irah.

Banyak cerita dari mahasiswa ITB tentang sosok sederhana itu. Pernah ada yang menawarkan donat kepada beliau, namun beliau menolaknya dengan alasan takut sang pemberi donat tersebut merugi karena donat tersebut adalah donat untuk dijual. Namun setelah dipaksa dan diberikan pengertian, akhinya Ibu Irah mau untuk menerima pemberiannya itu. Dan masih banyak lagi cerita dari beberapa mahasiswa ITB yang lain. Memang banyak hikmah yang dapat dijadikan pelajaran bagi sekitarnya. Terutama hikmah tentang peduli kepada sesama. Namun sebelum kita memperhatikan sesam, seyogyanya kita memperhatikan orang terdekat kita terlebih dahulu, yaitu keluarga kita sendiri. Jangan sampai hal yang memprihatinkan seperti yang dialami Ibu Irah ini menimpa orang tua kita sendiri. Atau bahkan mungkin kita sendiri yang akan mengalami hal tersebut karena kurangnya kepedulian kita kepada keluarga.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar